Selasa, 06 Januari 2015

Teknologi dan Kesejahteraan Masyarakat


Kincir Angin Bantul
Listrik menjadi kebutuhan utama bagi manusia guna mensejahterakan hidup, namun keberadaan listrik yang ada di Indonesia belum merata ke daerah-daerah terpencil. Saat ini kementrian Ristek dan Teknologi yang berkerja sama dengan Lapan, Kementrian Kelautan dan Perikanan, E-wind Energi, Pemerintah Kabupaten Bantu, dan Universitas Gajah Mada. Dengan kerjasama semua pihak tersebut dapat mensejahterakan masyarakat di daerah terpencil.
Pengembangan teknologi pembangkit listrik tenaga hibrid di wilayah pesisir pantai dusun Ngentak, Desa Poncosari, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bantul adalah kota yang terletak di sebelah selatan kota Yogyakarta berdekatan dengan laut selatan, daerah yang mempunyai potensi sebagai kawasan wisata mengundang para wisatawan untuk selalu datang mengunjungi dan menikmati keindahan panoramanya.
Pantai Baru yang memiliki potensi angin kencang dari laut selatan dengan kecepatan angin rata-rata 4 m/s dan matahari bersinar sepanjang hari, kondisi tersebut menjadi satu kriteria pemilihan lokasi pengembangan pembangkit listrik energi hibrid dengan turbin putaran rendah. Energi hibrid adalah energi yang berasal dari paduan dua atau lebih sumber energi yang berbeda, dalam hal ini ristek mengembangkan teknologi hibrid di pantai Baru.
Dari penpaduan dua energi yaitu energi surya dan energi angin. Pelaksanaan kerja sistem energi listrik hibrid di pantai Baru di lakukan oleh tim pengelola sistem inovasi daerah yang terdiri dari tim pengembangan dan keterlibatan masyarakat sekitar dusun Ngenak, Poncosari, Pandan simo. Teknologi ini di bangun pada tahun 2010 di atas tanah seluas kurang lebih 10-17 ha, teknologi hibrid sudah berjalan 6 bulan, teknologi ini beroperasi 24 jam.
Tenaga hibrid yang di kembangkan di kawasan pantai Baru meliputi kincir angin dan sel surya, kincir angin dengan jumlah 33 unit mempunyai beberapa jenis yang bermacam-macam yaitu turbit angin 1kw 28 unit, turbit angin 2,5kw sebanyak 6 unit, turbit angin 10kw sebanyak 2 unit dan turbit angin 50kw sebanyak 1 unit.
Sedangkan pembangkit listrik tenaga surya atau sel surya mempunyai kapasitas 17,5kw power, dalam hal ini tipe turbin angin 1kw akan di lakukan riwors anginery yang kemudian di bentuk IKM (Industri Kecil Menengah) tenaga hibrid untuk pemenuhan kebutuhan kincir angin dalam negeri. Kincir angin adalah teknologi untuk merubah energi angin menjadi energi listrik merupakan salah satu alternatif energi terbaru, dengan memanfaatkan angin yang ada untuk menghasilkan listrik apalagi jika di gabungkan dengan sel surya.
Kincir angin yang di kombinasikan dengan sel surya untuk menghasilkan listrik guna untuk memproduksi es yang digunakan untuk nelayan dan lahan pertanian yang kering tidak bisa di jangkau jaringan irigasi yang ada, tenaga hibrid menghasilkan listrik untuk memompa air dan penerangan. Tenaga hibrid merupakan alternatif yang sangat baik untuk daerah terpencil
Proses Terbentuknya Listrik dari Tenaga Hibrid
Dari kincir angin dan sel surya listrik di tampung di ruang integrasi, listrik DC yang di hasilkan setelah melalui kontrolel kemudian masuk ke baterai, listrik DC di ubah oleh inviter dari bentuk DC menjadi AC, listrik yang dari inviter 15kw di pake untuk mengoperasikan es maker dan urban lain yang satu fase termasuk kantor dan lampu-lampu jalan.
Selain mengembangkan teknologi hibrid ristek juga membekali wawasan kepada masyarakat sekitar melalui kegiatan workshop dan membentuk study club mahasiswa bertujuan untuk membentuk generasi-generasi yang berkualitas yang dapat menjaga keberlanjutan pengembangan energi hibrid di Indonesia.
Workshop yang di bekalkan kepada warga sekitar meliputi pembuatan sudu atau baling-baling kincir, pembuatan generator atau mesin penggerak kincir, pembuatan tower dan pembuatan sistem kontrol. Ristek yang berkerjasama dengan lapang juga melakukan workshop lapangan kepada setiap lembaga atau yayasan yang berkunjung ke wawasan pembangkit listrik tenaga hibrid.
Pesan:
Dengan adanya kegiatan workshop dan study club untuk para siswa siswi dapat mengembangkan potensi pembuatan pebangkit listrik tenaga hibrid sehingga dapat mensejahterakan masyarakat sekitar dan wilayah-wilayah terpencil di Indonesiadi masa yang akan datang
Dampak Positif dan Harapan Jangka Panjang:
1.      Sistem ini diharapkan mampu menaikkan saat musimkemarau atau pada saat debit air sungai rendah
2.      Dengan adanya ristek diharapkan wisata di daerah bantul dapat  dipadukan dengan wisata pantai, wisata kuliner juga akan di jadikan sebagai wisata pendidikan.
Dampak Positif:
1.      Warga sangat terbantu oleh listrik tenaga hibrid karena dengan adanya listrik tenaga hibrid mempermudah produksi es dan untuk pengawetan ikan para nelayan
2.      Meningkatkan atau mengoptimalakan lahan pasir yang dulunyakritis menjadi subur dan dapat di tanami
3.      Menguntungkan bagi kelompok tani
4.      Dapat melakukan kegiatan-kegiatan dan mengambil listrik di pusat.
Keberadaan ristek dalam membangun pembangkit listrik tenaga hibrid, energi telah menjadi alternatif untuk daerah terpencil dalam penyediaan listrik. Yang bertujuan agar kesejahteraan masyarakat Indonesia dapat merata

0 komentar:

Posting Komentar

 

Bahan Belajar Template by Ipietoon Cute Blog Design