Apakah kamu suka sekali
menggarisbawahi buku dengan spidol warna warni pada malam sebelum ujian? Atau
mungkin kamu mencoba mempersiapkan ujian dengan membuat ringkasan, menulis kata
kunci, dan membaca kembali buku teks? Apakah kamu merasa cara-cara itu berhasil
buatmu? Penelitian menunjukkan bahwa menggarisbawahi buku teks, membaca kembali
buku teks, dan menulis kata kunci merupakan teknik belajar yang kurang efektif
namun paling banyak digunakan oleh siswa (Dulonski dkk, 2013).
Sebelumnya, perlu diingat bahwa kamu
dikatakan sudah belajar jika sudah mengalami perubahan yang permanen dalam hal
pengetahuan atau pemahaman (Bjork & Bjork, 2011). Jadi, kamu dikatakan
berhasil dalam belajar apabila apa yang kamu pelajari bertahan di kepalamu
dalam jangka waktu yang lama. Nah, jika kamu ingin pelajaran-pelajaran di
sekolah lebih melekat di kepala, ternyata rahasianya adalah jangan takut untuk
menghadapi kesulitan dalam belajar.
Materi yang sedang dipelajari akan
tersimpan lebih kuat dan bertahan lebih lama dalam ingatan apabila kita
melewati kesulitan. Hal ini disebut dengan desirable difficulties atau
kesulitan yang diharapkan dapat memberikan hasil yang permanen dalam belajar
(Bjork & Bjork, 2011). Jadi, jika kamu menggunakan teknik belajar yang
terasa sulit, maka apa yang kamu pelajari tidak mudah terlupakan begitu kamu
selesai mengerjakan ujian.
Teknik-teknik yang termasuk ke dalam
desirable difficulties terbukti lebih efektif dalam meningkatkan prestasi
belajar seseorang dibandingkan teknik belajar lainnya seperti menggarisbawahi,
meringkas dan membuat kata kunci (Dulonski dkk., 2013). Lalu teknik seperti apa
yang termasuk ke dalam desirable difficulties? Teknik-teknik yang dapat kamu
gunakan antara lain adalah:
1.Variasikan kondisi belajarmu.
Penelitian menunjukkan bahwa materi yang diulang dalam kondisi yang berbeda
akan lebih mudah diingat kembali daripada materi yang diulang dalam kondisi
yang sama (Smith dkk dalam Bjork & Bjork, 2011). Pergilah ke kafe di mall
atau di depan kompleks rumah, atau mungkin sesederhana berpindah ruangan di
rumahmu setiap kamu mempelajari kembali suatu materi. Ciptakanlah kondisi yang
berbeda-beda setiap kamu hendak mengulang suatu materi pelajaran. Hal ini
meningkatkan fleksibilitas otakmu dalam mengingat kembali materi yang telah
dipelajari dalam berbagai situasi sehingga lebih mudah diingat kembali ketika
kamu memerlukannya (Bjork & Bjork, 2011).
2.Berikan jeda waktu di antara
setiap sesi belajarmu. Pemberian jeda waktu belajar disebut dengan spacing
practice akan menciptakan efek spacing di mana materi yang dipelajari lebih
mudah tersimpan dalam long term memory (Bjork & Bjork, 2011). Bagilah sesi
belajarmu secara teratur seperti 2 jam setiap hari, dan hindari sistem kebut
semalam karena dengan metode SKS, materi yang kamu pelajari hanya akan
tersimpan dalam short term memory dan akan mudah terlupakan. Selain itu,
keuntungan teknik ini adalah mempermudah kamu dalam mempelajari materi
selanjutnya. Jika kamu masih mengingat materi sebelumnya, maka kamu dapat
langsung menghubungkannya dengan materi yang baru sehingga materi yang baru
akan lebih mudah diingat. Ingat, informasi yang memiliki keterkaitan satu sama
lain akan lebih mudah tersimpan dalam long term memory. Jadi jika kamu dapat
mengaitkan materi satu dengan lainnya, kamu akan mendapat pemahaman yang lebih
mendalam dan lebih mudah tersimpan dalam ingatan.
3.Mempelajari lebih dari satu jenis
materi pelajaran dalam satu sesi belajar. Teknik ini disebut dengan
interleaving (Bjork & Bjork, 2011; Dulonski dkk., 2013). Misalnya dalam
satu sesi belajar selama dua jam kamu belajar biologi selama satu jam dan sosiologi
selama satu jam. Akan lebih baik apabila kamu dapat membuat kaitan antara
keduanya atau menyusun beberapa materi pelajaran dalam satu tema, agar lebih
terlihat hubungannya satu sama lain.
4.Tes diri kamu sendiri. Kerjakanlah
soal-soal latihan, buatlah flash card, atau berdiskusi dengan temanmu, uji
pemahamanmu dengan mencari contoh sehari-hari dari apa yang kamu pelajari.
Menguji diri sendiri adalah salah satu cara untuk mengingat kembali materi, dan
juga kamu dapat mengetahui apa saja yang telah kamu kuasai. Jika kamu
mengerjakan soal latihan dalam bentuk soal cerita atau contoh kasus akan
membantumu untuk lebih memahami pelajaran.
Teknik-teknik di atas dapat kamu
kombinasikan dan terapkan dalam kegiatan belajar kamu sehari-hari. Tentunya,
cara belajar seperti ini harus dibarengi dengan kemampuan manajemen waktu yang
baik, dan hindari prokrastinasi!
Sumber yang dipakai:
Dunlosky, J., Rawson, K. A., Marsh,
E. J., Nathan, M. J., & Willingham, D. T. (2013). Improving Students’
Learning With Effective Learning Techniques: Promising Directions From
Cognitive and Educational Psychology.Psychological Science in the Public
Interest, 14(1), 4–58. doi:10.1177/1529100612453266 diunduh dari
http://www2.kent.edu/CAS/Psychology/people/RawsonLab/upload/PSPI-in-print.pdf
Bjork, E. L., & Bjork, R. A.
(2011). Making things hard on yourself, but in a good way: Creating desirable
difficulties to enhance learning. Psychology and the Real World: Essays
Illustrating Fundamental Contributions to Society, 56–64. Diunduh dari http://bjorklab.psych.ucla.edu/pubs/EBjork_RBjork_2011.pdf
Sumber: http://ruangpsikologi.com/pendidikan/jangan-takut-menghadapi-kesulitan-ketika-belajar/#ixzz3OfpmUrkz
Copyright RuangPsikologi.com 2014
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial
Follow us: @ruangpsikologi on Twitter | ruangpsikologi on Facebook
0 komentar:
Posting Komentar